KONTEKSBERITA.com – Warga Kabupaten Bekasi kini memiliki cara lebih praktis untuk mendapatkan bantuan ambulans saat menghadapi kondisi darurat medis. Tak perlu repot mencari nomor petugas, masyarakat cukup menggunakan aplikasi Tombol Sirine yang disediakan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bekasi.
Inovasi berbasis digital ini memungkinkan warga meminta layanan penjemputan pasien langsung dari rumah untuk kemudian dibawa ke rumah sakit.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, dr. Arief Kurnia, menjelaskan bahwa Tombol Sirine dirancang untuk mempermudah masyarakat mengakses layanan kegawatdaruratan melalui ponsel.
Cara menggunakannya pun cukup mudah. Masyarakat terlebih dahulu mengunduh aplikasi melalui Play Store dan melakukan pendaftaran. Ketika membutuhkan pertolongan medis darurat, pengguna tinggal menekan tombol merah yang tersedia di aplikasi.
Permintaan tersebut secara otomatis tersambung dengan Public Safety Center (PSC) 119 Dinkes Kabupaten Bekasi. Petugas kemudian akan merespons dengan mendatangi lokasi pasien untuk memberikan layanan penjemputan.
“Inovasi ini membantu masyarakat yang membutuhkan layanan jemput pasien. Dengan menekan tombol, pengguna langsung terhubung ke kantor PSC 119 sehingga petugas bisa menjemput dan mengantarkan pasien ke rumah sakit,” kata Arief.
Sejak diperkenalkan, aplikasi Tombol Sirine telah mencatat sekitar 1.300 unduhan. Dalam satu bulan, layanan ini rata-rata digunakan sebanyak 20 hingga 30 kali.
Meski sudah dimanfaatkan masyarakat, Dinkes masih terus menggencarkan sosialisasi. Tujuannya agar warga semakin mengenal aplikasi tersebut dan terbiasa menggunakan layanan digital ketika membutuhkan pertolongan.
Dokter Bisa Datang ke Rumah Lewat Program DALANG
Upaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tidak hanya dilakukan melalui aplikasi Tombol Sirine.
Pemkab Bekasi juga memiliki program DALANG atau Datangi Layani Sepenuh Hati. Program ini memberikan pelayanan kesehatan bagi warga yang sedang sakit dan tidak memungkinkan untuk datang langsung ke Puskesmas.
Menurut Arief, berbagai terobosan tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Selain pelayanan langsung, pemerintah daerah juga menjalankan program pencegahan penyakit melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG), penanganan kusta dan tuberkulosis (TBC), serta peningkatan layanan Posyandu untuk ibu hamil dan anak balita.
Target 100 Puskesmas untuk Layani 3,2 Juta Penduduk
Persoalan pemerataan fasilitas kesehatan juga menjadi perhatian Pemkab Bekasi. Bersama Dinas Cipta Karya, Dinkes terus mendorong pembangunan Puskesmas baru sekaligus meningkatkan kualitas fasilitas yang sudah tersedia.
Saat ini, terdapat 55 Puskesmas yang melayani masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Bekasi.
Namun, dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 3,2 juta jiwa, pemerintah menargetkan ketersediaan satu Puskesmas untuk setiap 30 ribu penduduk. Artinya, Kabupaten Bekasi membutuhkan sekitar 100 Puskesmas.
Arief mengakui jumlah fasilitas kesehatan yang tersedia saat ini masih belum mencapai target tersebut.
“Untuk sekarang baru tersedia 55 Puskesmas. Ke depan akan dilakukan penambahan secara bertahap, termasuk tenaga kesehatan untuk mendukung operasional fasilitas baru,” jelasnya.
Ia pun mengajak masyarakat agar tidak menunggu sakit parah untuk memeriksakan kondisi kesehatan. Warga diharapkan rutin memanfaatkan pelayanan Puskesmas dan Posyandu sebagai langkah menjaga kesehatan sekaligus mendeteksi potensi penyakit sejak dini.
(Red)

















