Konteksberita.com | Kota Bekasi – Bantuan sosial dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Bekasi mulai diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat, tetapi juga mendorong penerima manfaat agar lebih mandiri secara ekonomi.
Hal itu terlihat dalam program Merdeka Berbagi yang digelar Baznas Kota Bekasi di Pendopo Kantor Wali Kota Bekasi. Dalam kegiatan tersebut, Baznas menyalurkan bantuan dengan total nilai sekitar Rp1 miliar kepada para mustahik.

Photo: program merdeka baznas Kota Bekasi salurkan berbagai bantuan 2026(Doc.Ist)
Beragam bantuan diberikan dalam program tersebut, mulai dari santunan kematian, biaya hidup, keselamatan, pendidikan, gerobak UMKM, alat bantu kesehatan, Rutilahu, sembako dhuafa, lansia tunggal hingga beasiswa S1.
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menilai pola penyaluran Baznas saat ini semakin berkembang karena tidak berhenti pada bantuan konsumtif.
“Semakin lebih transparan, semakin terbuka, dan itemnya pun juga semakin banyak,” ujar Tri. Kepada wartawan selasa (11/8/2026).
Ia mengatakan, pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu bagian penting dalam penyaluran zakat. Bantuan tersebut diharapkan dapat ikut mendukung agenda pembangunan Kota Bekasi, khususnya dalam bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
“Tidak hanya sekadar memberikan sembako, tapi tadi ada terkait dengan pemberdayaan ekonominya,” katanya.
Menurut Tri, Baznas juga berkontribusi terhadap program pendidikan melalui bantuan satu sarjana satu kecamatan.
Hingga saat ini, sebanyak 49 sarjana telah tercakup dalam program tersebut, dengan 40 calon penerima yang saat ini berada dalam proses seleksi.
Tri menilai langkah Baznas tersebut sejalan dengan arah pembangunan Kota Bekasi yang menitikberatkan pada program Bekasi Sehat, Bekasi Cerdas dan penguatan ekonomi masyarakat.
Transparansi Jadi Kunci Kepercayaan
Di sisi lain, Ketua Baznas Kota Bekasi Drs. Sudarsono menegaskan bahwa keterbukaan menjadi bagian penting dalam pengelolaan dana umat.
Ia menjelaskan, Baznas melayani masyarakat setiap hari di kantor. Sementara kegiatan penyaluran secara terbuka di Pendopo Kantor Wali Kota Bekasi dilakukan setiap tiga bulan.
“Tujuannya menunjukkan bahwa kita mengelola dana umat secara transparan, akuntabel, dan memenuhi unsur 3A, yaitu aman syar’i, aman regulasi, aman NKRI,” jelas Sudarsono.
Menurutnya, kegiatan penyaluran secara terbuka juga menjadi kesempatan bagi para penerima manfaat untuk mengenal langsung pemerintah dan pemimpin daerah.
Sudarsono mengatakan Baznas memiliki peran strategis dalam membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan.
“Baznas hadir untuk membantu Pemerintah Kota dalam mengentaskan kemiskinan dan penanggulangan permasalahan yang ada,” ujarnya.
Dalam penyaluran kali ini, sebanyak 264 penerima manfaat hadir langsung. Sementara total penerima manfaat untuk periode tersebut mencapai sekitar 1.700 orang.
Salah satu program yang berjalan rutin adalah bantuan sembako yang diberikan kepada ratusan penerima setiap bulan.
Bantuan Tak Berhenti di Sembako
Sudarsono menegaskan, program Merdeka Berbagi bukan berarti menciptakan program baru, melainkan menyesuaikan penyaluran dengan momentum dan kebutuhan masyarakat.
Bentuk bantuan tetap mencakup berbagai sektor, terutama pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi.
Untuk kesehatan, Baznas memberikan sejumlah alat bantu kesehatan serta bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan dalam proses perawatan.
Sementara dalam bidang pendidikan, bantuan dapat diberikan untuk kebutuhan biaya pendidikan yang tertunggak maupun kebutuhan lain bagi penerima yang masuk kategori tidak mampu.
Namun, Baznas juga mulai mendorong agar sebagian bantuan bersifat produktif.
Hal ini sejalan dengan arahan Wali Kota Bekasi agar bantuan tidak sekadar diberikan dan habis digunakan, tetapi dapat menjadi modal bagi penerima untuk meningkatkan taraf hidup.
“Yang namanya orang tidak mampu, sepanjang punya kemauan dan mimpi besar, kita fasilitasi,” kata Sudarsono.
Kejar Target Penghimpunan Zakat
Sudarsono mengakui tantangan Baznas Kota Bekasi saat ini lebih banyak berkaitan dengan pencapaian target penghimpunan zakat.
Ia menyebut sekitar 90 persen muzaki Baznas masih berasal dari ASN dan pegawai di lingkungan pemerintah daerah. Sementara sekitar 10 persen lainnya berasal dari masyarakat non-ASN atau sektor ritel.
Untuk memperluas basis muzaki, Pemkot Bekasi telah memberikan imbauan kepada pelaku usaha agar turut menyalurkan zakat melalui Baznas.
Sudarsono menekankan bahwa pelaku usaha tidak sekadar diajak untuk memberikan zakat, tetapi juga diberikan pemahaman mengenai bagaimana dana tersebut disalurkan.
“Baznas bukan saja mengumpulkan, tetapi nilai distribusinya juga. Penyaluran juga mereka dilibatkan,” katanya.
Ia mencontohkan keterlibatan PT Kualita yang berencana menyalurkan sekitar Rp70 juta untuk mendukung program gerobak UMKM dan alat kesehatan.
Skema tersebut memungkinkan pelaku usaha menentukan program yang ingin didukung, sementara Baznas memastikan penyaluran tetap sesuai ketentuan.
“Yang penting mereka bayar zakat dan sesuai dengan asnaf. Kita ada aturan, tidak sembarangan,” tegasnya.
Dengan pola itu, Baznas Kota Bekasi berharap kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap pengelolaan zakat semakin kuat. Dana umat diharapkan tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi mampu menjadi instrumen pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan di Kota Bekasi.
Imron R










