Pengajuan Objek Sebagai Cagar Budaya Berdasarkan UU No. 11 Tahun 2010       

Menu ✖

Mode Gelap

NEWS · 19 Jun 2024 00:44 WIB ·

Pengajuan Objek Sebagai Cagar Budaya Berdasarkan UU No. 11 Tahun 2010


					Peresmian Yayasan Tajug Al Hidayah Mekarwangi, di Desa Mekarwangi, Kec. Cikarang Barat, Kab. Bekasi. (Dok: Istimewa) Perbesar

Peresmian Yayasan Tajug Al Hidayah Mekarwangi, di Desa Mekarwangi, Kec. Cikarang Barat, Kab. Bekasi. (Dok: Istimewa)

KONTEKSBERITA.com – Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya mengatur secara rinci mengenai pelestarian benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses pengajuan dan penetapan objek sebagai cagar budaya.

Undang-undang ini memberikan kerangka hukum bagi pelestarian cagar budaya di Indonesia, termasuk wewenang pemerintah daerah dalam proses identifikasi, penetapan, dan pengelolaan cagar budaya.

Cagar budaya didefinisikan sebagai warisan budaya yang bersifat kebendaan atau Fisik.

Berikut ini adalah langkah-langkah pengajuan objek sebagai cagar budaya sesuai dengan undang-undang tersebut:

Pengajuan Objek Cagar Budaya

1. Identifikasi dan Penelitian Awal

Proses pengajuan dimulai dengan identifikasi objek yang diduga memiliki nilai penting.

Pihak yang berkepentingan, seperti masyarakat, pemerintah daerah, atau organisasi pelestari budaya, melakukan penelitian awal untuk mengumpulkan data dan informasi terkait objek tersebut.

Penelitian ini mencakup aspek sejarah, arsitektur, sosial, dan budaya.

2. Pengajuan Permohonan

Setelah identifikasi dan penelitian awal, permohonan pengajuan objek sebagai cagar budaya diajukan kepada instansi yang berwenang, yaitu Dinas Kebudayaan di tingkat kabupaten/kota atau Provinsi.

BACA JUGA:  Kemenag Tegaskan Komitmen Tingkatkan Kesejahteraan dan Kompetensi Guru Agama

Permohonan harus dilengkapi dengan dokumen pendukung seperti:

– Deskripsi objek.
– Sejarah singkat objek.
– Lokasi objek.
– Bukti kepemilikan atau penguasaan.
– Dokumentasi foto objek.

3. Penilaian Tim Ahli Cagar Budaya

Setelah menerima permohonan, instansi yang berwenang menunjuk Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang bertugas menilai kelayakan objek tersebut.

Penilaian ini meliputi kajian mendalam terhadap:

– Usia, Nilai penting sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan.
– Kondisi fisik dan autentisitas objek.
– Konteks dan hubungan objek dengan lingkungan sekitarnya.

4. Rekomendasi dan Penetapan

Berdasarkan hasil penilaian TACB, akan dikeluarkan rekomendasi apakah objek tersebut layak ditetapkan sebagai cagar budaya atau tidak.

Jika layak, rekomendasi ini akan diajukan TACB kepada kepala daerah atau pejabat yang berwenang untuk menetapkan objek tersebut sebagai cagar budaya melalui Surat Keputusan (SK).

BACA JUGA:  Pj Wali Kota Bekasi Dianggap Lepas Tanggung Jawab, Ratusan PHL Mogok Kerja

5. Pencatatan dan Pengumuman

Setelah objek ditetapkan sebagai cagar budaya, instansi terkait akan mencatatkan objek tersebut dalam register nasional cagar budaya dan mengumumkannya kepada publik.

Pencatatan ini bertujuan untuk memberikan perlindungan hukum dan memudahkan pemantauan serta pelestarian objek tersebut.

6. Perlindungan dan Pelestarian

Setelah ditetapkan, objek cagar budaya wajib dilindungi dan dilestarikan oleh pemilik atau pengelola dengan dibantu oleh instansi terkait.

Upaya pelestarian meliputi:

– Pemeliharaan rutin.
– Pengamanan dari ancaman kerusakan.
– Pengembangan dan pemanfaatan objek cagar budaya secara berkelanjutan.

Jenis-jenis Cagar Budaya

Cagar budaya dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori berdasarkan jenis dan fungsinya:

– Benda Cagar Budaya, yaitu Artefak atau benda-benda kuno yang memiliki nilai sejarah atau artistik. Contohnya termasuk perhiasan, senjata, alat musik, dan karya seni lainnya.

– Bangunan Cagar Budaya, yaitu struktur arsitektur yang memiliki nilai historis atau arsitektural. Misalnya, istana, gereja, masjid, kuil, dan rumah tradisional.

– Struktur Cagar Budaya, yaitu bentuk bangunan atau konstruksi yang memiliki nilai historis atau teknis, seperti jembatan tua, benteng, dan mercusuar.

BACA JUGA:  Pj Bupati Bekasi Segel PT KSA di Cikarang Barat Akibat Pencemaran Lingkungan

– Situs Cagar Budaya, yaitu lokasi atau tempat yang memiliki nilai historis, arkeologis, atau spiritual. Contohnya termasuk situs purbakala, makam, dan kawasan pemakaman.

– Kawasan Cagar Budaya, yaitu area yang lebih luas yang mencakup berbagai jenis cagar budaya dan sering kali memiliki nilai lingkungan atau pemandangan yang signifikan, seperti kota tua atau taman sejarah.

Kesimpulan

Proses pengajuan objek sebagai cagar budaya adalah langkah penting dalam upaya pelestarian warisan budaya.

Melalui identifikasi, penelitian, penilaian, hingga penetapan, setiap tahap memiliki peran krusial dalam memastikan bahwa objek-objek bernilai sejarah dan budaya tinggi dapat dilestarikan untuk generasi mendatang.

Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 memberikan kerangka hukum yang jelas dan mendetail untuk proses ini, menjamin pelestarian cagar budaya di Indonesia secara efektif dan berkelanjutan.

 

(Red)

*Update Berita Lainnya di Google News.

Artikel ini telah dibaca 77 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Polisi Sita 1,5 Kg Sabu di Kebon Jeruk, Dua Pria Ditangkap

27 Oktober 2026 - 12:48 WIB

Sabu di Kebon Jeruk

Korban Kecelakaan Minibus di Tol Terpeka Tulang Bawang Barat, Jasa Raharja Gercep Pelayanan

26 Oktober 2026 - 15:53 WIB

Hadapi Tantangan Ekonomi 2027, Jasa Raharja Perkuat Strategi Keberlanjutan Bisnis melalui Economic Insights

26 Oktober 2026 - 09:49 WIB

Sindikat Promosi Judol di Makassar Diduga Raup Rp1,3 Miliar

25 Oktober 2026 - 15:22 WIB

Polres Jakbar Bongkar 43 Kasus Pencurian, 53 Orang Diamankan

23 Oktober 2026 - 11:01 WIB

Polda Riau Sita 6.500 Liter Biosolar Subsidi di Siak

22 Oktober 2026 - 11:32 WIB

Polda Riau
Trending di NEWS