Harga Beras Makin Mahal, Jokowi Beberkan Penyebabnya       

Menu

Mode Gelap

NEWS · 20 Feb 2024 22:18 WIB ·

Harga Beras Makin Mahal, Jokowi Beberkan Penyebabnya


Jokowi Meninjau Stok Beras. (Dok: Istimewa) Perbesar

Jokowi Meninjau Stok Beras. (Dok: Istimewa)

KONTEKSBERITA.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan kekhawatirannya mengenai lonjakan harga beras yang signifikan belakangan ini.

Menurutnya, harga beras mengalami kenaikan secara merata di seluruh negeri karena produksi yang menurun akibat perubahan iklim ekstrim, yang berdampak pada gagal panen.

“Kita tahu harga beras di seluruh negara sekarang naik. Tidak hanya di Indonesia saja tapi di seluruh negara. Kenapa naik? Karena ada yang namanya perubahan iklim, ada yang namanya perubahan cuaca sehingga gagal panen, produksi berkurang sehingga harganya jadi naik,” kata Jokowi.

Dalam kunjungannya di Gedung Kawasan Pertanian Terpadu, Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (19/2/2024), Jokowi menyatakan bahwa pemerintah telah memberikan bantuan beras kepada masyarakat untuk meringankan dampak kenaikan harga.

Sebanyak 22 juta keluarga telah menerima bantuan beras seberat 10 kilogram.

Berdasarkan data dari Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga rata-rata beras medium saat ini adalah Rp 14.070 per kilogram.

Harga tertinggi tercatat di Provinsi Papua Pegunungan sebesar Rp 22.250 per kilogram, sementara harga terendah terjadi di Provinsi Papua Selatan dengan harga Rp 11.800 per kilogram.

Untuk beras premium, harga rata-ratanya nasional adalah Rp 16.110 per kilogram, dengan harga tertinggi di Papua Tengah sebesar Rp 26.670 per kilogram dan harga terendah di Provinsi Aceh sebesar Rp 14.600 per kilogram.

Di sisi lain, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menjelaskan bahwa kenaikan harga beras disebabkan oleh penundaan panen petani akibat siklus cuaca El Nino tahun lalu.

Hal ini mengakibatkan penurunan produksi beras, yang secara otomatis meningkatkan harga jualnya.

Pemerintah telah menggelontorkan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menahan atau menurunkan harga, meskipun belum banyak tersedia di pasar.

Zulhas menjelaskan bahwa beras SPHP Bulog banyak diminati karena penurunan produksi dalam negeri, yang mengakibatkan kelangkaan barang di pasaran.

 

Editor: Uje
Sumber: detikNews

*Update Berita Lainnya di Google News.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Jelang Libur Panjang, Jalur Puncak Berlaku Ganjil-Genap Mulai 24 Januari

23 Januari 2025 - 10:36 WIB

Kawasan Puncak Bogor

Prabowo Tegas Bakal Cabut Izin Perusahaan yang Langgar Aturan Lahan dan Hutan

22 Januari 2025 - 18:33 WIB

Prabowo

Polri Bersama Membangun Negeri Melalui Ketahanan Pangan

22 Januari 2025 - 11:54 WIB

Polri Ketahanan Pangan

Pelaku Begal di Setu Bekasi Terancam 12 Tahun Penjara, Polisi Buru 1 DPO

21 Januari 2025 - 19:06 WIB

Begal di Setu

Darto Terpilih Ketua Karang Taruna Desa Mekarwangi Masa Bakti 2025-2030

21 Januari 2025 - 01:23 WIB

Ketua Karang Taruna Mekarwangi

Gelar Musrenbangdes 2026, Pemdes Tamansari Mengacu Program Pemerintah

20 Januari 2025 - 17:47 WIB

Musrenbangdes Tamansari
Trending di NEWS